Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger news

RSS

10 Hewan Yang Telah Punah di Dunia

Kepunahan dalam biologi berarti hilangnya keberadaan dari sebuah spesies atau sekelompok takson. Suatu spesies dinamakan punah bila anggota terkahir dari spesies tersebut mati. Kepunahan terjadi bila tidak ada lagi makhluk hidup dari spesies tersebut yang dapat berkembang biak dan membentuk generasi. Suatu spesies juga disebut punah secara fungsional, bila beberapa anggotanya masih hidup tetapi tidak mampu berkembang biak, misalnya karena sudah tua, atau hanya ada satu jenis kelamin. Berikut ini merupakan 10 hewan yang telah dianggap punah di dunia.

  1. Beruang Atlas

Beruang Atlas (Ursus arctos crowtheri) adalah subspesies dari beruang coklat, namun kadang dianggap sebagai spesies yang berbeda. Beruang ini adalah satu-satunya beruang asli Afrika. Beruang ini hidup di Pegunungan Atlas dan sekitarnya, dari Maroko sampai Libya, dan dianggap sudah punah. Ribuan beruang ini diburu untuk olahraga, venatio, atau eksekusi para penjahat ad bestias ketika pembesaran daerah kekuasaan Kekaisaran Romawi sampai Afrika Utara. Spesimen terakhirnya kemungkinan dibunuh oleh pemburu pada tahun 1870-an di gunung Rif di Maroko utara.

Gambar beruang atlas pada mozaik zaman Romawi.
Gambar beruang atlas pada mozaik zaman Romawi.

  1. Quagga
Quagga yang menyerupai zebra dan pernah ditemukan dalam jumlah besar di Afrika Selatan. Quagga dapat dibedakan dari zebra lain dengan memiliki tanda pada bagian depan tubuh. Quagga merupakan campuran dari kuda dan zebra. Nama Quagga berasal dari kata Khoikhoi untuk zebra. Quagga punah akibat perburuan oleh manusia yang berusaha mendapat daging dan kulitnya. Quagga dinyatakan punah pada tahun 1883.
quagga
  1. Harimau Tasmania
Harimau tasmania (bahasa Latin: Thylacinus cynocephalus) adalah marsupial karnivora masa modern terbesar yang pernah diketahui. Binatang ini berasal dari Australia dan pulau Papua dan dinyatakan punah pada abad ke-20. Binatang ini disebut Harimau Tasmania karena punggungnya yang bercorak belang, namun ada juga yang menyebutnya Serigala Tasmania. Harimau tasmania punah di Australia sekitar 2.000 tahun yang lalu (kemungkinan punah lebih awal di pulau Papua). Kepunahan harimau tasmania disebabkan oleh kompetisi dengan penduduk asli dan spesies invasif, Dingo.
Meskipun Harimau tasmania hampir punah di Australia daratan pada masa datangnya bangsa Eropa, dan punah sekitar abad ke-19, spesies ini selamat di pulau Tasmania hingga tahun 1930-an. Pada waktu penduduk Eropa pertama tiba di Tasmania, kedatangan terbesar terjadi di timur-laut, barat-laut dan utara-tengah. Pada awal kedatangan bangsa Eropa, Harimau Tasmania jarang terlihat, akan tetapi spesies tersebut mulai menyerang domba; hal ini menyebabkan munculnya sayembara hadiah untuk mengendalikan jumlah harimau tasmania. Van Diemen’s Land Company menawarkan hadiah untuk penangkapan harimau tasmania dari awal tahun 1830 dan antara 1888 sampai 1909 pemerintah Tasmania membayar £1 untuk kepala harimau tasmania (10 shilling untuk anak harimau tasmania). Mereka telah menyerahkan 2.184 hadiah, akan tetapi jumlah harimau tasmania yang terbunuh jauh lebih banyak. Kepunahannya diakibatkan oleh petani dan pemburu bayaran. Namun, diketahui terdapat faktor lain yang menyebabkan kepunahannya, seperti kompetisi dengan anjing liar (dibawa oleh pendatang baru), berkurangnya habitat, kepunahan spesies mangsa, dan penyakit pada binatang yang juga memengaruhi banyak spesies pada saat itu.
Harimau tasmania liar yang terakhir kali diketahui dibunuh dengan cara ditembak tahun 1930 oleh petani Wilf Batty di Mawbanna, di timur laut Tasmania. Harimau tasmania (dipercaya laki-laki) terlihat di kandang ayam Batty selama beberapa minggu.
Harimau tasmania
  1. Sapi Laut Steller
Sapi Laut Steller (Hydrodamalis gigas) adalah mamalia sirenia besar yang telah punah dan sebelumnya dapat ditemukan di pantai laut Bering di Asia. Sapi laut Steller ditemukan di kepulauan Komander tahun 1741 oleh penyelidik alam Georg Steller, yang melakukan perjalanan dengan penjelajah Vitus Bering. Populasi kecil hidup di air Arktik di sekitar pulau Beringdan didekat pulau Medny. Namun, karena kedatangan manusia mereka hidup di pantai Pasifik utara.
Populasi sapi laut ada pada jumlah kecil dan terbatas ketika Steller mendeskripsikan mereka. Steller mengatakan bahwa mereka ditemukan pada kelompok, tetapi Stejneger memperkirakan terdapat lebih sedikit dari 1500 yang tersisa dan terancam punah karena diburu manusia. Mereka dihabisi oleh pelaut, pemburu anjing laut, dan pedagang bulu yang mengikuti rute Bering ke Alaska, yang memburu mereka untuk makanan dan kulitnya yang digunakan untuk membuat kapal. Mereka juga diburu untuk lemaknya yang tidak hanya digunakan untuk makanan, tetapi juga sebagai lampu minyak karena tidak mengeluarkan asap atau bau dan dapat disimpan dalam waktu yang lama pada udara hangat. Pada tahun 1768, kurang dari 30 tahun sapi laut ini ditemukan, Sapi Laut Steller telah punah. Fosil menandakan sapi laut Steller sebelumnya menyebar di pantai Pasifik utara, mencapai Jepang selatan dan California. Tibanya manusia merupakan salah satu akibat kepunahan Sapi Laut Steller.
 Sapi Laut Steller
  1. Walabi-Kelinci Timur
Walabi-Kelinci Timur (Inggris Eastern Hare-Wallaby; Latin Lagorchestes leporides) adalah salah satu spesies Walabi yang telah punah. Binatang ini dahulu hidup di dataran pedalaman Australia tenggara dan memiliki kebiasaan hidup seperti kelinci. Binatang ini memiliki posisi istirahat yang unik pada siang hari, biasanya di bawah perlindungan serumpun rumput ilalang tussock. Jika binatang ini didekati, maka ia akan meloncat dengan kecepatan penuh. Seekor wallabi yang dikejar pemangsa atau pemburu pada jarak 500 meter akan menggandakan lompatannya dengan tiba-tiba dan kembali dalam 6 meter dan dapat melompat setinggi 1,8 meter. Hal ini terjadi pada John Gould yang dilompati kepalanya oleh seekor Walabi-Kelinci.
Binatang ini dulu merupakan spesies yang umum, namun mungkin bersaing dengan sapi atau domba. Bisa juga ia terkena dampak buruk pola terbakarnya ladang yang berubah atau karena penyebaran kucing. Catatan terakhir melaporkan adanya spesies betina yang ditangkap oleh Mr. Bennett pada bulan Agustus 1889.

  1. Harimau Bali
Harimau Bali (bahasa Latin: Panthera tigris balica) adalah subspesies harimau yang sudah punah dan habitatnya diPulau Bali, Indonesia. Harimau ini adalah salah satu dari tiga subspesies harimau di Indonesia bersama denganharimau jawa (juga telah punah) dan harimau sumatera (spesies terancam).
Harimau ini adalah harimau terkecil dari ketiga subspesies; harimau terakhir ditembak pada tahun 1925, dan subspesies ini dinyatakan punah pada tanggal 27 September 1937. Subspesies ini punah karena kehilangan habitat dan perburuan manusia.

Tim pemburu yang dipimpin Baron Oscar Vojnich membunuh harimau bali November 1911.
Tim pemburu yang dipimpin Baron Oscar Vojnich membunuh harimau bali November 1911.

  1. Elang Haast
Elang Haast (Harpagornis moorei), adalah salah elang raksasa yang sekarang telah punah dan dulunya hidup di Pulau Selatan, Selandia Baru. Binatang ini juga dikenal sebagai Elang Harpagornis yang merupakan elang terbesar yang pernah hidup. Binatang ini dipercaya oleh suku Māori dengan menyebut Pouakai; nama yang sering dipakai Hokioi (atau hakawai) yang mengacu pada angkasa yang dihiasi Berkik Selandia Baru — yang secara rinci, subspesies Pulau Selatan yang telah punah.
Elang haast betina memiliki berat 10 hingga 15 kg, dan yang jantan memiliki berat 9 sampai 10 kg.Kebanyakan dari mereka memiliki rentang sayap kasar 2.6 hingga 3 m, yang pendek untuk berat burung elang (elang emas terbesar dan Elang laut Stelleryang memiliki rentang sayap yang hampir sama panjangnya), namun yang membantu mereka ketika berburu di hutan lebat Selandia Baru.

Model pajangan di Te Papa tentang Elang haast yang sedang menyerang seekor moa dengan kuku-kukunya yang tajam.
Model pajangan di Te Papa tentang Elang haast yang sedang menyerang seekor moa dengan kuku-kukunya yang tajam.

  1. Harimau Jawa
Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) adalah subspesies harimau yang hidup terbatas (endemik) di Pulau Jawa. Harimau ini telah dinyatakan punah di sekitar tahun 1980-an, akibat perburuan dan perkembangan lahan pertanianyang mengurangi habitat binatang ini secara drastis.
Pada awal abad ke-19, harimau ini masih banyak berkeliaran di Pulau Jawa. Pada tahun 1940-an, harimau jawa hanya ditemukan di hutan-hutan terpencil. Ada usaha-usaha untuk menyelamatkan harimau ini dengan membuka beberapataman nasional. Namun, ukuran taman ini terlalu kecil dan mangsa harimau terlalu sedikit. Pada tahun 1950-an, ketika populasi harimau jawa hanya tinggal 25 ekor, kira-kira 13 ekor berada di Taman Nasional Ujung Kulon. Sepuluh tahun kemudian angka ini kian menyusut. Pada tahun 1972, hanya ada sekitar 7 harimau yang tinggal di Taman Nasional Meru Betiri.
Ada kemungkinan kepunahan ini terjadi di sekitar tahun 1950-an ketika diperkirakan hanya tinggal 25 ekor jenis harimau ini. Terakhir kali ada sinyalemen dari harimau jawa ialah pada tahun 1972. Pada tahun 1979, ada tanda-tanda bahwa tinggal 3 ekor harimau hidup di Pulau Jawa. Kemungkinan kecil binatang ini belum punah. Pada tahun 1990-an ada beberapa laporan tentang keberadaan hewan ini, walaupun hal ini tidak bisa diverifikasi.

Foto harimau jawa yang diambil pada tahun 1938 di Taman Nasional Ujung Kulon.
Foto Harimau Jawa yang diambil pada tahun 1938 di Taman Nasional Ujung Kulon.

  1. Burung Dodo
Pada Tahun 1505 para pelaut Portugis berhasil menemukan kepulauan Mauritius. Di pulau inilah ditemukan seekor burung yang dikenal dengan sebutan Dodo.
Dodo (Raphus cucullatus) adalah burung yang tak dapat terbang yang pernah hidup di pulau Mauritius. Burung ini berhubungan dengan merpati. Burung ini memiliki tinggi sekitar satu meter, pemakan buah-buahan, dan bersarang di tanah.
Dodo punah antara pertengahan sampai akhir abad ke-17. Kepunahannya sering dijadikan arketip karena terjadi dalam sejarah manusia dan akibat aktivitas manusia.
Dodo adalah burung yang tidak takut pada manusia, dan ditambah ketidakmampuannya untuk terbang, membuatnya menjadi mangsa yang mudah ditangkap. Orang yang mendarat di Mauritius memakan burung ini. Namun, banyak jurnal melaporkan rasa dodo tidak enak dan dagingnya yang keras, sementara spesies lokal lainnya seperti Rail Merah enak rasanya. Umumnya dipercaya bahwa pelaut Melayu menghargai burung ini dan membunuhnya hanya untuk menggunakannya sebagai hiasan kepala dalam upacara keagamaan

Gambar dodo oleh Jan Savery tahun 1651 berdasar pada lukisan Roelant Savery tahun 1626, dibuat dari spesimen yang diisi - perhatikan bahwa ia mempunyai dua kaki kiri dan burung itu tampak kegemukan di tempat penangkapannya.
Gambar dodo oleh Jan Savery tahun 1651 berdasar pada lukisan Roelant Savery tahun 1626.

  1. Mamut
Mamut / Mammoth adalah genus gajah purba yang telah punah. Ukuran tubuhnya lebih besar daripada gajah normal yang ada di dunia saat ini. Gadingnya melingkar membentuk kurva ke arah dalam dan, dalam spesies utara, dengan rambut panjang. Mereka hidup dalam masa Pleistosen sejak 1,6 juta tahun lalu sampai sekitar 10.000 tahun lalu. Kata mamut berasal dari bahasa Rusia (мамонт).
Ada kesalahpahaman bahwa mamut lebih besar dari gajah. Spesies terbesar mamut yang diketahui, Mammoth Sungai Songhua, memiliki tinggi sekurangnya 5 meter pada pundaknya. Mamut umumnya memiliki berat 6-8 ton, namun mamut jantan yang besar beratnya dapat mencapai 12 ton. Gading mamut sepanjang 3,3 meter ditemukan di utara Lincoln, Illinois tahun 2005. Sebagian besar spesies mamut memiliki ukuran sebesar Gajah Asia modern.

SUMBER : - https://simplycomplicatedrisma.wordpress.com/2015/05/03/10-hewan-yang-telah-punah-di-dunia/
                    - Wikipedia & Blog



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar

TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGANNYA

Pages